FANDOM


Sesuai judul, anak2 koloni (komik lokal indonesia) itu menyedihkan, seharusnya mereka lebih menghargai style menggambar dalam negri
dalam komik mereka pun, ga ada bagusnya, hanya bisa plagiatan manga dan RPG, sampah lah istilahnya.
Lo kira lo semua keren ?
Sedih , lo semua ngga punya pendirian. Ngga menghargai budaya bangsa. Lo ngga ada bedanya sama alay di jalanan.

Generasi muda kita lebih terapresiasi dengan style manga, yg notabene dari Jepang...
Ngga sadar apa kita pernah di jajah jepang ? Kita di jadikan budak. dan sekarang lo semua malah membangga2kan budaya mereka.
Mau di kemanakan Jati diri bangsa ? Mereka ngga lihat betapa terapresiasinya turis Asing kepada budaya bangsa kita.
Tapi betapa menyedihkannya melihat beberapa komikus2 indo yang masih membanggakan style luar negri.
Mereka justru bilang style gambar bangsa indonesia sendiri kampungan.


gw bisa menyimpulkan bahwa mangaka imitasi dari indonesia = Weaboo dan Wapanese..berarti mereka emang sampah bagi masyarakat indonesia dan harus segera meninggalkan Indonesia untuk menjadi pantat jepang...

kalo enggak ada komik para japanese wannabe gw gak perlu capek-capek neliti ini komik manga asli atau manga abal-abal kan. Lagian umumnya komik itu diplastikin, kalo gw main buka aja, disuruh beli dong?
misalnya gw ke gramedia mau beli manga, sekarang musti hati-hati, dulu kalo gambarnya bagus bisa langsung gw beli, sekarang musti hati-hati, salah-salah malah kebeli manga yang pengarangnya ternyata japanese wannabe dari indonesia, kan penipuan itu namanya
Masalahnya kalo gak ada manga imitasi gitu kan gw gak perlu meriksa ada tulisan koloni ato gak...
Nambah kerjaan saja....

by seorang entah berantah yang udah kabur dari grup yang diciptakannya sendiri

In My Humble Opinion

Pertama-tama, siapapun yang menulis ini, tidak paham akan hal-hal dia bicarakan berhubungan dengan ini :
1. Indonesia adalah negara yang sedang mencari jati diri bangsa
2. Banyak negara-negara yang sukses sekarang, pada masa pencarian jati dirinya, mempelajari budaya luar untuk disesuaikan dengan budaya aslinya sendiri
3. Kebudayaan memang khas, namun bukan berarti tidak boleh membaur

Contoh pada point kedua :
Pada masa awal-awal pergolakan di China, perubahan dari negara Dinasty memasuki dunia globalisasi, China banyak mengirim para pemudanya untuk belajar di negara-negara maju (misalnya, Prancis) untuk belajar, kemudian kembali lagi untuk menerapkannya sesuai dengan apa yang ia pelajari lagi. Jepang pun pada saat memasuki dunia global, banyak belajar dari Amerika untuk disesuaikan dengan sistem mereka sendiri.

Sekarang, apakah China menjadi sama seperti Eropa? Apakah Jepang menjadi sama dengan Amerika?

Tidak.

China tetaplah China. China yang maju setelah belajar dari orang-orang maju. Jepang tetaplah Jepang. Jepang yang maju dan bersaing ketat dengan Amerika, sekalipun mempelajari industri Amerika. Bahkan kini orang-orang Amerika pun tak jarang menggunakan nama Jepang sebagai nama internet mereka.

Pada contoh lokal, guru mengajari murid. Lantas apakah di kemudian hari si murid menjadi orang yang sama dengan pengajarnya?

Aristoteles mengajari Alexander Agung selama 8 tahun. Namun pada akhirnya Aristoteles menjadi seorang kepala sekolah, sedangkan Alexander Agung menjadi penguasa. Sungguh bertentangan! Guru boleh melimpahkan semua ilmunya pada muridnya, dan murid boleh mempelajari semua yang dimiliki gurunya. Tapi pada akhirnya, jati diri-lah yang menentukan akan menjadi apa.

Jadi, Indonesia saat ini bukan sedang melecehkan budaya asli dengan cara mengagung-agungkan budaya luar. Memang benar ada yang suka kungfu, ada yang kagum dengan samurai, ada yang suka pahlawan Eropa. Tapi bukan berarti dengan mencintai budaya luar, lantas mereka adalah pengkhianat.

Maka dari itu sungguh sangat dangkal sekali apabila orang di atas menyimpulkan bahwa komikus Indonesia adalah mangaka imitasi yang tidak lain adalah Weaboo dan Wapanese, kemudian mengatai para komikus generasi ini sebagai sampah masyarakat Indonesia lalu mengusir mereka dari Indonesia.

Menurut saya, non, maaf, justru andalah yang merusak perkembangan komik Indonesia dalam proses pencarian jati dirinya. Tak sadarkah anda bahwa anda saat ini sedang "plucking on good sprouts"?

Sekali lagi, siapapun pengecut yang menulis hate speech ini, dia lagi-lagi tidak tahu bahwa membuka sampul sekarang sudah diperbolehkan, bahkan Gramedia sudah sengaja membiarkan satu sampel terbuka agar dapat di skiming oleh calon pembeli.

Kesimpulan

Karena setiap kata yang diucapkan si pembenci ini sebagian besar karena ia tidak tahu apa yang ia bicarakan, maka rasanya cocok sekali dengan definisi alay.

Jadi kesimpulannya, penulis ini adalah alay.

"Sedih , lo semua ngga punya pendirian. Ngga menghargai budaya bangsa. Lo ngga ada bedanya sama alay di jalanan."

Sungguh ironis ....

Aspirasi yang lebih tepat

Budaya itu bebas dicintai oleh siapa saja, hanya saja kita butuh seseorang untuk mempromosikan budaya dalam negeri. Memang karya-karya seni seperti novel atau komik Indonesia yang keluar di pasaran sekarang ini banyak yang berbau budaya luar, atau menggunakan nama luar negeri.

Namun hal ini bisa disikapi dengan bijaksana dengan cara percaya bahwa ini baru awal penyesuaian diri dalam mencari style (jati diri) karya bangsa. Waktu akan memoles karya-karya dalam negeri ini untuk menemukan jati dirinya sendiri. Karena style hanyalah style, yang terpenting adalah conten di dalamnya.

Contoh karya Romeo & Juliet karya Shakespeare yang di tulis dengan gaya klasik, menceritakan tentang cinta naif sepasang remaja yang kurang beruntung sehingga berakhir menjadi tragedi. Namun pada zaman yang lebih modern, style penyampaian yang digunakan sudah berubah, menyesuaikan dengan budaya yang turut bergulir dengan waktu. Namun toh inti ceritanya masih sama; tentang cinta naif sepasang remaja yang kurang beruntung sehingga berakhir menjadi tragedi.

Melihat apa yang terjadi selama ini disekitarku, dan saat aku menonton televisi, menurutku Indonesia harus tetap optimis. Bukan karena data-data yang mendukung bahwa Indonesia berkembang seperti yang diungkapkan Denny (politikus). Tapi karena kita masih memiliki rasa nasionalisme yang kuat, sebuah harapan dalam kepesimisan. Coba lihat lagi baik-baik, sesungguhnya masyarakat Indonesia ini sangat nasionalis. Hanya saja kita masih dalam taraf pencarian jati diri bangsa yang tidak sebentar. Segala sesuatu butuh proses, termasuk indomie.

Saya percaya komikus Indonesia setelah menemukan style Indonesia, pasti akan memasukkan sedikit banyak unsur Indonesia di dalam karya-karya mereka. Entah itu dalam bentuk apapun, corak batik, keris, satwa, sekalipun settingnya di tanah antah berantah.

Maka sebaiknya tidak perlu melakukan hate speech seperti di atas untuk mengungkapkan keprihatinan akan jati diri bangsa. Hendaknya sebelum bicara, seseorang harus tahu dulu apa yang akan ia bicarakan sehingga kritik dan aspirasinya tidak ditertawakan orang lain yang lebih tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi.