FANDOM


Alay adalah fenomena yang terjadi dikalangan remaja di Indonesia yang memiliki kecenderungan mengikuti budaya populer secara buta. Saya sebut "secara buta" karena mereka tidak tahu apapun mengenai apa yang mereka sukai. Misalnya contoh, mereka mengklaim mereka suka "emo", tapi ditanya sejarahnya "emo", mereka tidak tahu atau salah paham.

Dikarenakan kecenderungan kepribadian orang Indonesia yang sangat simpel dan cenderung benci pada hal-hal yang detail atau mendalam, mereka yang disebut alay pun tidak terlalu peduli pada asal-usul hal yang mereka sukai. Akibat dari kekeliruan ini adalah, mereka seringkali salah mendefinisikan sesuatu, seringkali berfilosofi namun filosofi mereka terasa sangat dangkal bagi beberapa orang lainnya, dan mereka tidak tahu cara menerapkan sesuatu dengan benar.

Etimologi

Alay terdiri dari kata "A" yang merupakan singkatan dari "anak" dan "lay" yang merupakan singkatan dari "layangan".

Entah mengapa kata "anak layangan" yang dipilih untuk mengeneralisasikan sekelompok anak beranjak remaja ini, barangkali karena bagi masyarakat umum, anak-anak layangan terkesan kampungan. Dan kata "kampungan" dalam bahasa Indonesia sehari-hari memiliki makna yang nyaris sama dengan "norak". Kata "kampungan" menggambarkan kehidupan di kampung yang jauh dari masyarakat kota yang pada umumnya sarat dengan modernisasi dan tempat dimana kemajuan zaman biasanya terjadi. Dengan demikian, barangkali "Alay" memiliki arti sebagai orang-orang yang cara berpikirnya norak, atau terbelakang.

Ciri khas alay

Mengesampingkan ciri-ciri orang alay yang pada umumnya dikatakan berpakaian norak, sok retro, sok emo, tolol, bodoh, dan lainnya, saya lebih suka menyebut orang-orang dengan ciri berikut sebagai alay :

  1. salah menerapkan apa yang mereka labelkan untuk diri sendiri
  2. terjebak dalam budaya yang sedang hits hanya karena budaya itu sedang populer
  3. melakukan apapun yang dilakukan orang-orang keren, sekalipun itu bukan integritas mereka sendiri demi ikutan disebut keren
  4. asal melabelkan diri namun tidak tahu apa-apa tentang label tersebut
  5. tidak tahu apa yang mereka lakukan, yang penting pinginnya dibilang keren

Alay dalam Bahasa Lain

  • Douchebag - Amerika
  • Jejemon - Filipina

Kenapa Alay dibenci?

Pada awalnya sebutan ini memang sudah berbau negatif dan ditujukan untuk menunjukkan rasa tidak suka.

Barangkali awal ketidak sukaan orang terhadap sesuatu yang "alay" ini diawali dari rasa ketidak setujuan mereka terhadap cara pikir orang-orang alay yang dinilai terlalu simpel, terlalu terjebak dalam budaya populer (korban mode yang buta), atau mungkin hanya karena mereka terlihat aneh, karena mereka menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri.

LCDP sendiri tidak menyukai orang-orang alay, namun alay di sini lebih merujuk kepada penggunaan bahasa. Tidak dipungkiri lagi orang-orang alay yang merupakan sekumpulan ABG malang yang menjadi korban mode buta ini sudah pasti berjuang keras agar bisa mendapatkan BB, atau ponsel apapun asal canggih (sekali lagi, agar mereka terkesan keren).

Tren SMS membuat orang mengetik sesingkatnya, semaunya, dan terkadang menggunakan huruf besar-kecil dan kadang digabung dengan angka. Awalnya karena crusor dari ponsel ini bergerak cukup lambat dan baru bergeser apabila terjadi input dan satu tombol menderet tiga hingga empat huruf dan angka. Lama kelamaan bahasa yang mereka lihat adalah bahasa seperti itu.

Akibatnya saat mengetik dan menulispun mereka menggunakan huruf besar-kecil tidak pada tempatnya, dan menggunakan angka untuk menggantikan bentuk huruf yang mirip ... (lagi-lagi karena huruf tersebut terlihat ekspresif, keren.)

Sebagai contoh, penggunaan huruf besar kecil dan angka dalam 1 kata yang masih wajar : JinBei86. Karena kata itu memisahkan Jin dan Bei yang memang berasal dari Chen dan Ping. Angka 86 nya pun berupa angka yang sesungguhnya, yakni tahun kelahiran Jinbei pada 1986.

Namun kata itu akan disebut alay bila tertulis seperti ini : jINb31BG. "J" dan "B" yang seharusnya huruf besar menjadi huruf kecil tanpa alasan yang jelas dan "in" yang seharusnya huruf kecil menjadi huruf besar tanpa alasan yang jelas pula. Sementara "ei" jadi "31" karena strukturnya yang mirip, sama dengan "86" menjadi "BG".

Selain mengesalkan karena berpotensi besar memelencengkan KBBI, tulisan alay juga sangat sulit dibaca dan sangat mengesalkan. Namun setelah susah payah dibaca, kalimat tersebut berbunyi sangat dangkal, seringkali manja dan cengeng, cenderung mencari-cari simpati atas sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Gejala ini seringkali muncul saat si alay sedang patah hati atau tidak naik kelas.

contoh :

"Q cyaNk ma QmU...plzzzZZZ ... jGn tingGal1n aQ...."

Saya akan berbaik hati menterjemahkannya : "Aku sayang sama kamu, tolong jangan tinggalkan aku."

Jadi, apakah sebenarnya yang tidak disukai dari si alay ini adalah cara menulis mereka, atau karena mereka mencari perhatian dengan cara yang eksentrik?

Pantaskah Alay dibenci?

Saya lebih suka mengarahkan mereka daripada membenci mereka. Sesuai dengan filosofi Law of Attraction, membenci tidak akan menghilangkan hal yang tidak diharapkan itu, tapi justru malah semakin memperbesarnya. Karena "benci" bukanlah lawan dari "cinta", benci adalah pertanda ketiadaan cinta, lawan dari cinta adalah "ketidak pedulian".

Jadi sebaiknya jangan dibenci, tapi diarahkan saja agar mereka tidak salah kaprah dan bisa lebih mengoptimalkan ekspresi diri mereka.

Karena tidak ada yang salah dalam mengekspresikan diri. Banyak sekali orang-orang eksentrik yang menjadi terkenal, seperti Miyamoto Musashi, Albert Einstein, Lady Gaga, dll.

Kalau mereka tidak tahu, beritahu secukupnya, jangan coba mengubah mereka menjadi seperti apa yang kita harapkan (idealisme kita). Sebaiknya tetap hormati orientasi mereka, walau terlihat menggelikan dan bodoh. Pada saatnya nanti, mereka juga akan semakin berkembang dan semakin tahu apa yang benar dan salah, apa yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan.